Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Aku mencintai kalian yang bercadar

Aku cukup terkejut dengan adanya pemberitaan di portal berita nasional mengenai hak wanita yang bebas untuk memilih pakaiannya sendiri sesuai dengan KEYAKINANNYA di zaman yang DEMOKRATIS ini. Jika diantara kita masih ada yang mengaku-aku menghargai keinginan bebas manusia, baiknya ia merenungkannya kembali.

Bagi aku. Ini sangat menyedihkan. Wanita yang biasanya dipandang oleh banyak pria sebagai makhluk yang lemah, justru ternyata merekalah yang seharusnya aku anggap sebagai salah satu guru kehidupan terutama dalam hal bagaimana KUATNYA mereka dalam menjalani hidup.

Banyak yang pakai BeeTalk tapi aneh-aneh

Mungkin tidak berlaku bagi kebanyakan orang, tapi kayaknya ada saja yang pakai aplikasi BeeTalk ini yang bertingkah kelewat batas. Baik yang laki-laki maupun yang perempuan macam tidak ada moral lagi.

Aku tak tahulah apa tujuannya. Cari uang kah. Cari pasangan kah atau macam mana.

Cara mencari file tertentu di Google

Ini pengalamannya aku yang orang kampung ya. Google itu mungkin bukan barang baru lagi terutama bagi yang sering internetan. Ketika berselancar, ada kalanya aku itu pengen mendapatkan hasil pencarian dalam format tertentu, misalnya pdf, office word, power point dan masih banyak lagi tipe filenya.

Antara memposting di blog atau facebook

Aku termasuk orang yang telat mengenal dunia blog. Sangat berbeda dengan media sosial seperti facebook. Mungkin memiliki akun fb ini sudah sejak 2007 atau 2008 silam. Jika dipikir-pikir mengenai status baik berupa tulisan, gambar dan juga video yang ada di akun website milik Mark Zuckerberg ini, sudah sangat banyak sekali.

Definisi desain grafis yang aku pahami

Yang aku tahu hingga saat ini, kata desain berasal dari bahasa inggris yaitu Design yang kemudian diterjemahkan. Dan, yang aku tahu juga adalah, bahwa bahasa orang bule tersebut hanya bermakna satu, yaitu merancang.

Aku mungkin saja akan keliru. Bisa jadi bahasa aslinya bukanlah demikian. Begitu juga dengan terjemahannya yang aku belum dalami.

Fotografi dan manipulasi foto

Aku tak tahu sejak kapan ini dimulai. Bagaimana sejarah dan proses perkembangan kretivitas manusia hingga fotografi yang begitu indah harus diperindah lagi.

Aku pada tahap ragu-ragu untuk mengatakan ini salah ataukah benar.

Hai kawan, siapakah aku dan kamu yang sebenarnya?

Sederhananya, dalam satu kehidupan kita - kita menjalani banyak hal. Tak terhitung lagi jumlahnya.

Saat berdiri dan hendak duduk saja, terjadi begitu banyak kejadian didalam tubuh ini. Andai mampu kita saksikan langsung secara terus menerus, mungkin kita akan berhenti mengejar keangkuhan.

Itu hanya sekedar menempatkan tubuh kita pada sesuatu yang kita anggap akan meringankan beban berdiri saja. Bagaimana dengan BANYAK hal lainnya? Makan, minum, tidur, tersenyum, berlari dan sangat beragam aktivitas lain.

Siapa yang menggerakkan itu semua? Mesin secanggih apapun yang akan diproduksi di masa depan tidak akan mampu untuk dibuat sebagai pembandingnya.

Dan, masih saja kita menganggap biasa sebuah keangkuhan.

Pernahkah engkau bepergian menaiki pesawat? Bukankah manusia yang engkau lihat dibawah terlihat begitu kecil. Bandingkan dengan luasnya daratan tempat mereka hidup. KECIL. Hanyalah sebuah titik kecil dan terkadang tak terlihat.

Atau pernahkah mengarungi lautan diatas kapal? Bukankah ai…

Kenali inderamu, kenali dirimu

Waspadalah dengan inderamu. Karena tidak semua yang dialaminya seperti itu adanya.

Saat kulitmu merasakan sakit, bisa saja ia sedang akan menyembuhkanmu. Seperti seorang Dokter yang sedang melakukan imunisasi pada bayi yang sebenarnya sangat sehat.
Matamu. Melihat kejauhan hingga mencapai bintang-bintang. Terlihat kemerlip yang sangat kecil. Namun, tahukah kau sayang... Ia juga bisa lebih besar dari bumi tempat kita singgah ini.
Pendengaran. Yang sejatinya harus diisi oleh kebenaran, justru kita menginginkan hal lain yang lebih "dirasa" memikat padahal bukan yang kita butuhkan. Sudah banyak kali memanipulasi akal kita.
Tangan dan kakimu, sudahkah melakukan kewajibannya. Perintah dari Yang Satu.
Malam yang begitu hitam. Semakin larut semakin gelap. Tahu jugakah kau sayang, bahwa sesungguhnya ia menyembunyikan banyak warna.
Bagaimana dengan kita?

Keindahan yang akan tetap berlanjut. Semoga.

Duhai indah hadiah ini. Saling menyayangi bahkan dalam benci membuat kita tetap satu.

Tak sekali aku menatapmu dengan punggungku. Begitupun kau. Namun, bagaimanapun keadaan memaksa, kita jualah yang tetap memutuskan untuk saling menghadapkan mata. Lalu, menguari senyum.
Semua begitu penuh makna.
Kita tidaklah terlambat untuk bertemu. Saling mengenal sesaat dan memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga. Jika kita ingat kembali, rupanya memang kita dipertemukan tidak dalam waktu yang cepat. Namun, di waktu yang tepat.
Begitu adil pengalaman ini.
Semakin hari semakin mendalam. Dengan berbagai kekuatan, kita menempa raga dan jiwa kita atas segala hal. Semoga ini berjalan puluhan tahun hingga Sang Pencipta memanggil dan kembali menyatukan kita pada dimensi lain yang jauh lebih indah dari yang pernah menghampiri kehidupan kita.
Semoga.

Cintaku mungkin tak akan selamanya bersamamu

Haruskah menjadi modern untuk bisa mencintai. Kamu sendiri mengetahui bahwa itu bukanlah kebutuhan kita. Kesederhanaan adalah apa yang seharusnya menjadi kemewahan manusia. Namun, kita tetap berlomba pada keistimewaan yang semu.

Kehadiranmu disisku semakin menjauh. Perlahan engkau memudar dan menghilang. Padahal kita berdua sama menyadari bahwa hampir tak ada jarak antara kita.

Oh duhai tulang, daging dan akal yang fana. Sampai kapankah akan begini.

Hari ini adalah kita yang kemarin, sedang esok kita belum mampu melihat diri kita sendiri. Pun, esok akan menjadi hari yang kemarin.

Aku tak akan selalu ada disini. Bahkan, ruh ku pun ada yang memilikinya.

Bagaimana mungkin engkau dan diri ini begitu angkuh. Seolah waktu kita yang menciptakan, sementara menyentuhnya pun kita tak mampu.

Tulang rusuk, perlukah engkau meluruskannya

Tak semua jalan yang lurus menuntun kita pada kebenaran. Semua memiliki konteksnya masing-masing. Tengoklah ke belakang dan ke bawah tatkala kita telah berada diatas puncak gunung dan perbukitan. Sangat indah pemandangannya, bukan?

Namun...
Bukankah Anda baru saja melewati berbagai rintangan dengan segala belokannya.
Berjalan lurus mungkin bisa membawa diri kita menuju titik teratas daratan. Namun kita tetap saja kerap kehilangan arah.
Jika aku menjadi pasanganmu nanti. Tak akan kuberikan jalan selurus yang kau inginkan. Tapi akan kubuka selebar dan seluas mungkin jalan yang Tuhan sendiri pun memerintahkannya sebagai sebuah kebenaran.
Dan sebelum kita sampai pada tahap itu, maka aku berharap memiliki setiap kesempatan yang Tuhan berikan untuk mencapainya.

Cinta adalah kejujuran

Kita hidup karena cinta.

Dengan kasih sayang Tuhan yang sangat melimpah.

Namun...

Kita kerap lupa itu semua.

Kita seolah hidup sendiri. Bahkan dalam keramaian sekeliling.

Berputus asa atas sesuatu yang tidak pernah terjadi, dan bukankah itu sebuah kebodohan?

Jujurlah dengan keadaan dirimu! Karena dengan itu, maka pintu cinta itu sendiri akan terbuka.