Aku mencintai kalian yang bercadar

Aku cukup terkejut dengan adanya pemberitaan di portal berita nasional mengenai hak wanita yang bebas untuk memilih pakaiannya sendiri sesuai dengan KEYAKINANNYA di zaman yang DEMOKRATIS ini. Jika diantara kita masih ada yang mengaku-aku menghargai keinginan bebas manusia, baiknya ia merenungkannya kembali.

Bagi aku. Ini sangat menyedihkan. Wanita yang biasanya dipandang oleh banyak pria sebagai makhluk yang lemah, justru ternyata merekalah yang seharusnya aku anggap sebagai salah satu guru kehidupan terutama dalam hal bagaimana KUATNYA mereka dalam menjalani hidup.

Aku tidak sedang mengada-ada. Diantara kenyataan hidup yang harus mereka hadapi terutama bagi wanita yang memutuskan untuk bercadar, mereka masih saja harus menerima tantangan baik dari wanita sesamanya dan juga pria.

Aku dan juga kalian sebagai manusia biasa, belum tentu akan mampu merasa terbiasa dengan ucapan kasar sebagaimana yang sering mereka dapatkan hanya karena mereka memilih untuk menjalankan kewajiban dari Tuhannya. Namun, lagi-lagi kita kalah. Lihatlah, bagaimana kekuatan sabar dan ikhlas yang mereka miliki.

Sewajarnya, apakah sebenarnya yang kita takutkan dari kain yang mereka kenakan? Bukankah itu sesuatu yang tidak bisa menyakiti siapapun?

Ketika beberapa wanita di negara barat semacam Amerika memilih untuk mempertontonkan hal yang seharusnya bukan konsumsi publik sebagaimana yang banyak ditemui di pantai di Bali, kita kompromi dengan menganggap bahwa itu wajar karena di negara asalnya bukanlah hal yang tabu. Sementara mereka melakukannya di Indonesia yang dengan bangga kita menyebutnya sebagai negara yang berbudaya, punya sopan santun dan segala motto kebaikan lainnya.

Hal berbeda kemudian dialami oleh wanita bercadar. Dimana mereka melakukan dengan penuh kesadaran untuk menutupi auratnya. Lantas, kenapa kita memaklumi budaya Amerika yang sok-sok kita pahami dan memberikan standar ganda atas keyakinan wanita lainnya?

Apa hak kita atas keyakinan orang lain?

Marilah kita sadar secara bersama-sama untuk tidak mengusik kehidupan orang lain yang sudah jelas-jelas bukan hak kita. Berani sekali diri kita memaksakan apa yang harusnya dikenakan oleh wanita lainnya.

Pendidikan yang kita miliki harusnya digunakan untuk membangunkan kemanusiaan, bukan malah membuatnya koma secara berkepanjangan.

Tubuh kita adalah hak kita sepenuhnya. Baik laki-laki maupun perempuan. Baik yang bercadar maupun yang tidak. Diatas semua itu, sejatinya Tuhan lah pemilik segala apa yang ada. Dan, pada tahap ini - kita seharusnya malu telah merampas kebebasan wanita bercadar.

Semoga ini menjadi renungan kita semua, bahwa uang dan kekuasaan manusia tak akan pernah mampu membeli sebuah kemuliaan.


EmoticonEmoticon