Manusia-Manusia Malam

Tepat jam 12.24 tengah malam ketika mulai menuliskan ini. Masih sama dengan malam-malam sebelumnya, dimana kebanyakan dari kita sudah lelap dari penatnya aktivitas harian. Segelintir yang lainnya terkadang baru memulai pekerjaannya di waktu-waktu ini.

Entah untuk sesuap nasi esok hari, ataupun bersiap-siap menyapa Sang Pencipta.

Yang saya tahu pasti, pekatnya malam tak juga akan mampu menyurutkan semangat bagi yang menghidupkannya. Sekecil apapun, selalu ada harapan yang menjadi pelita baginya yang berjuang untuk orang-orang yang dikasihinya.

Ia berjuang secara tersembunyi. Dan hanya beberapa orang beruntung yang mampu melihatnya.

Rindu pun tak kesampaian. Namun ia tetap berjalan di dinginnya malam untuk membawa pesan hati yang menggerakkannya. Ia mengemban misi bahkan tanpa banyaknya uluran tangan. Satu pun kadang tak ada.

Namun ia memilih untuk tetap yakin.
Bahwa pintu langit selalu terbuka lebar.

Ah, tak mungkinlah para malaikat-Nya kelelahan.

Meskipun tak se-berkeringat siang hari, nyatanya beban rindu memanglah melelahkan. Anehnya, disaat yang sama ia juga menemukan kesejukan. Suasana yang tak sembarang waktu bisa ia temui.

Masih menyusuri lorong-lorong malam.
Ia enggan untuk sekedar melepas lelah walau sebentar saja.

Karena ia yakin...
Di penghujung masa, ia akan bertemu cahaya.


EmoticonEmoticon