Penelitian MEMBUKTIKAN Bahwa Facebook Dapat Membuat Anda SEDIH! Gak Percaya?

Penelitian MEMBUKTIKAN Bahwa Facebook Dapat Membuat Anda SEDIH! Gak Percaya?

Faktanya adalah, lebih dari Satu Milyar (1M) pengguna login ke Facebook setiap hari. Entah niatnya untuk memajang selfie dengan bibir gaya bebeknya, stalking status mantan, memantau "pergerakan" calon pacar idaman, ataupun sekedar gak ada kerjaan lain dimana kadang seolah seperti robot bahwa ketika tidak sedang melakukan apapun, otomatis membuka media social.

Yang jelas, Facebook hingga saat ini masih menjadi primadona situs jejaring social terpopuler di dunia yang fana ini.

Sedikit "agak" logis memang, banyak yang berasumsi bahwa menggunakan fb meningkatkan kehidupan penggunanya yang entah dengan alasan apa sehingga bias diterima akal. Kalau mau bilang silaturahmi online, saya kira tak harus sampai berjam-jam menatap layar kaca hp.

Gak usah banyak menyembunyikan alasan deh!

Anehnya kawan, penelitian justru menunjukkan sebaliknya. Yaitu kondisi dimana kamu sebenarnya hanya merasa sedih, bukannya senang - apalagi bahagia. Studi/penelitian tersebut menunjukkan penggunaan Facebook berkaitan atau berhubungan dengan rendahnya kepuasan hidup penggunanya.

Duh.
Sakit gak tuh!

Sering Meluangkan Waktu di Facebook Akan Membuat Anda SEDIH!

Menurut sebuah studi tahun 2014 yang dipublikasikan di Computer in Human Behavior (Komputer dalam Perilaku Manusia), kebanyakan orang tidak menggunakan media sosial untuk kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Hanya 9 % aktivitas pengguna Facebook yang melibatkan komunikasi dengan orang lain.

Sebagai gantinya, sebagian besar pengguna hanya mengkonsumsi konten yang sifatnya acak. Dan, peneliti menemukan bahwa cara mengkonsumsi informasi pasif seperti demikian TIDAK MEMUASKAN (mungkin maksudnya hasrat terhadap fungsi bersosial yang ada seperti berinterksi antara sesama manusia namun secara online).

Peserta (koresponden) penelitian mengalami penurunan yang tajam pada mood (perasaan) mereka setelah melakukan scroll di facebook. Namun, yang lebih menariknya lagi adalah mereka tidak mengalami penurunan emosi yang sama saat berselancar di internet seperti membuka google dan menemukan informasi yang diinginkan lalu membaca, mendengar atau menontonnya.

Sepertinya banyak yang jadi korban perasaan di Facebook. Cobalah mulai menilai diri kamu sendiri.

Sedih gara-gara Facebook

Melalui serangkaian penelitian, para peneliti menyimpulkan bahwa pada saat pengguna keluar (logout) dari facebook, penggunanya merasa telah menyia-nyiakan waktu mereka. Penyelasan karena kurang produktif dalam pemanfaatan waktu tersebutlah yang membuat mereka sedih.

Merasa Iri/Cemburu pada Teman di Facebook Juga Menuntun Anda Menuju Depresi

Sedih setelah logout bukan satu-satunya cara Facebook mengurangi kesehatan mental Anda. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Current Opinion in Psychology (Opini Terkini dalam Psikologi) tahun 2016 yang lalu juga menemukan bahwa iri pada teman Anda di Facebook dapat menyebabkan depresi.

Mungkin dari unggahan fotonya yang terlihat bahagia dan sukses sementara Anda tidak, atau juga karena memang banyak yang pamer.

Ada gak yang begitu?

Tatkala melihat-lihat ungahan foto liburan yang menarik, bahagia bersama pasangan (kasihan yang jomblo), dan mungkin momen keluarga yang bahagia membuat para peserta penelitian membandingkan dengan kehidupan mereka dengan teman-temannya di fb.

Perbandingan sosial tersebut membuat orang menganggap teman Facebook mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Sehingga, perasaan iri/cemburu itu perlahan muncul (mungkin) tanpa disadari).

Dan perasaan tersebut semakin meningkatkan peluang untuk mengembangkan depresi dalam diri mereka sendiri. Bagaimana dengan Anda?

Lalu, Kenapa Anda Masih Terus Menggunakan Facebook Kalau Sudah Tahu Begitu Adanya?

Walaupun sudah menjadi korban perasaan, lebih dari 70 % penggunanya tetap mengecek Facebooknya setiap hari. Sudah tahu begitu, kenapa masih saja ada (bahkan banyak sekali) yang kembali jika Facebook benar-benar membuat orang menjadi sedih?

Para peneliti mengatakan itu berasal dari istilah psikologis yang disebut sebagai Affective Forecasting (Peramalan Afektif). Yaitu kondisi dimana manusia meyakinkan dirinya sendiri dengan mengkonfirmasi bahwa Facebook akan membuat dirinya merasa lebih baik. Semacam sugesti, namun lebih meyakinkan karena kegiatan itu dilakukan secara terus-menerus dalam waktu yang cukup (lama).

Mereka beranggapan - meskipun salah - 20 menit atau lebih meluangkan waktu di media sosial akan meningkatkan mood/perasaan mereka. Padahal, pengguna sendiri tidak menyadari justru hal tersebut dapat merampas kebahagian dari dalam diri mereka sendiri.

Siklusnya pun terus berlanjut dalam lingkaran yang seolah tanpa ada kata akhir. Seseorang menganggap Facebook sebagai salah satu "tempat" untuk sejenak beristirahat dari stress atau kerumitan hidup yang dialami dan mungkin juga kesempatan untuk "bertemu/silaturahmi" antar sesama teman.

Pada akhirnya, individu tersebut sebenarnya tidak berkomunikasi dengan temannya, pun kunjungan ke Facebook cenderung meningkatkan moodnya. Namun, ada kemungkinan orang tersebut akan gagal mengenali "korban perasaan" lainnya termasuk (mungkin) dirinya sendiri. Sehingga ia akan terus mengalami kemunduran.

Cara Mencegah Facebook Mengurangi Kebahagiaan Anda

Dengan menyadari bahwa Facebook dapat mengurangi kualitas dan kesehatan emosional Anda, tentunya itu akan sangat membantu mengawasi aktivitas media sosial Anda dengan baik.

Jika Anda sering scrolling atau memeriksa update status/berita terbaru dari atas ke bawah atau sebaliknya di Beranda Facebook, maka batasilah sekarang juga agar tidak mengurangi produktivitas keseharian Anda. Lakukan itu secara terus menerus untuk melawan kebiasaan Anda sebelumnya yang mungkin sudah dilakukan bertahun-tahun. Dan, lakukan itu pada setiap kesempatan dalam keseharian Anda.

Menjadi lebih sadar akan penggunaan Facebook dan berbagai sosial media lainnya akan membantu mengurangi jumlah waktu yang terbuang dengan sia-sia dan pada gilirannya akan membantu membuat perasaan Anda menjadi lebih baik.

Kedua, berhentilah untuk membanding-bandingkan kehidupan Anda dengan orang lain. Baik secara online maupun dalam kehidupan nyata. Apalagi, kebanyakan pengguna yang membagikan status, foto, video dan berbagai media lainnya sangat jarang yang membagikan permasalahan maupun ketidaknyamanan dan ketidak-aman-an yang mereka rasakan tatkala berbagi tersebut.

Sebagai contoh, jika mereka membagikan foto bahagia bersama pasangannya, apakah mereka benar-benar bahagia pada kenyataannya? Atau justru malah sebaliknya. Kita tidak tahu kan apa dibalik "kebahagiaan" yang dibagikan tersebut!?

Jadi, akan sangat disayangkan jika kita justru malah terjerumus dengan sifat iri dan cemburu pada sesuatu yang secara jelas tidak kita ketahui kebenarannya.

Akan lebih baik jika Anda membandingkan diri Anda hari/saat ini dengan diri Anda yang kemarin (sebelumnya) karena dapat membantu memperbaiki Anda menjadi individu yang semakin baik. Jadi, cobalah untuk tumbuh dengan baik dengan memiliki mental yang juga lebih baik lagi tanpa harus merasa iri dengan apa yang Anda lihat di Facebook.

Dan, jadilah orang yang berhak untuk sebuah kebahagiaan yang lebih nyata!

Silahkan bagikan artikel ini jika bermanfaat. Terima kasih.


EmoticonEmoticon