Sindrom FoMO: Sedikit Perilaku Kita Saat ber-Media Sosial Ria

Sindrom FoMO: Sedikit Perilaku Kita Saat ber-Media Sosial Ria

Visible Spectrum Blog - Kadang hanya niat login Facebook sebentar. Tapi pas lihat status teman yang dikaitkan dengan Instagram-nya, malah ikut-ikutan juga buka aplikasi tersebut. Belum lagi, Twitter juga kebanyakan terpasang otomatis dari waktu pertama kali beli hp.

Eh, tahu-tahu ada lagi notifikasi dari Facebook Messenger. Balik lagi deh main FB.

Berjam-jam seperti itu. Planga-plongo status teman gak karuan. Gak kenal waktu sama sekali. Tidak heran banyak yang merasa waktu cepat berlalu. Padahal, sehari tetap konsisten hanya selama 24 jam. Tidak kurang, apalagi lebih barang sedetik pun.

Hal tersebut terjadi selama berjam-jam dalam sehari dan berlangsung selama berbulan-bulan bahkan hingga menahun.

Menariknya lagi, fenomena ini terjadi pada lintas generasi; terutama pada generasi milenial yang merasa dirinya harus selalu update (kekinian). Bahasa halusnya, kurang kerjaan. Dibanding mereka yang memanfaatkannya untuk sesuatu yang produktif, tentu saja kuantitasnya kalah jauh.

Karena ini merupakan sebuah akibat, maka sudah barang tentu akan ada penyebab yang melatarbelakanginya. Dan, memang variabelnya sangatlah beragam.

Satu diantaranya disebut sebagai sindrom FoMO yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out (Ketakutan akan ketertinggalan) terhadap sesuatu hal.

Menjadi tidak kekinian dan kurang/lambat mendapatkan update terhadap sesuatu secara psikologis menjadi kekhawatiran tersendiri bagi yang mengalami hal ini.

Rasa cemas muncul tatkala melihat kebahagiaan/kesenangan orang lain, yang mengakibatkan adanya keinginan untuk tetap terhubung di media sosial secara terus-menerus.

Artikel terkait: Penelitian Membuktikan Bahwa Facebook Membuat Anda Sedih

Dari yang awalnya dianggap hanya sekedar ingin mengetahui, kemudian secara perlahan mulai mengikuti apa yang orang lain lakukan. Tak ubahnya menjadi korban dari Efek Domino dimana ketika salah satu dijatuhkan, maka sisa domino lainnya pun akan ikut merasakan dampak yang sama.

FoMO tentunya memiliki peran terkait penggunaan kita terhadap media sosial. Dari sekedar numpang eksis hingga menjamurnya generasi alay.

Tak "sedekat" dulu yang mengedepankan keterhubungan antar individu yang terpisah jarak yang terlampau jauh.

Menjadi wajar kemudian, dimana sejak beberapa tahun silam bermunculan istilah "Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat." dalam berbagai kemasan termasuk meme.

Tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan media sosial pun makin berkembang saja dimana netizen dari berbagai kalangan semakin banyak yang turut berkontribusi. Terlebih adanya potensi bisnis disana yang bisa dimanfaatkan untuk meraup keuntungan.

Terutama mereka yang berlaku sebagai buzzer suatu produk dan jasa yang dipercayakan kepadanya.

Sebagai followers pun harus merelakan feed beranda media sosialnya dipenuhi oleh postingan para tukang promosi ini. Meskipun dalam banyak kesempatan, hal tersebut sudah dianggap biasa demi orang yang digemarinya. Go ahead! I'm fine.

Meskipun pengguna saat ini memiliki banyak perbedaan dengan apa yang terjadi di masa lalu, namun ada satu hal penting yang perlu untuk tetap dijaga.

Yaitu, se-aktif apapun di media sosial, seharusnya itu pula yang mendukung kita untuk aktif bersosialisasi dalam dunia nyata. Tak hanya maya.

Semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon