Budayakan Berbelanja di Kios Tetangga Anda

Budayakan Berbelanja di Kios Tetangga Anda

Saya termasuk penggemar kegiatan belanja di kios tetangga. Terutama tempat berbelanja yang berlokasi di kawasan permukiman. Saya juga tidak anti dengan yang namanya mini market modern saat ini, meskipun pada banyak kesempatan terkadang tidak menyukainya karena ada yang jaraknya terlalu berdekatan dengan pasar tradisional.

Kios tetangga idola

Nilai tambah ketika belanja di lingkungan sekitar salah satunya adalah sekalian bersosialisasi/silaturahim. Hal ini yang jarang mampu disediakan di mini market. Dan, jujur saja, ketika tetangga tahu kalau saya selalu membeli barang di tempatnya, maka saya juga merasakan seolah menjadi tetangga yang baik bagi mereka.

Kios-kios kecil yang berada di kawasan perumahan penduduk ini, mungkin saja untungnya tidak seberapa. Memang, terkadang harganya lebih mahal seribu dari mini market, namun rasa persaudaraan yang akan diberikan tentunya akan tidak ternilai harganya.

Persaudaraan tersebut salah satunya terwujud dari keringanan menggunakan barang dagangannya dengan cara berutang. Apalagi jika benar-benar mendesak. Pengalaman selama ini membuktikan hal tersebut selalu bisa kita lakukan dengan mudahnya. Bahkan, saya sendiri tidak pernah sekalipun didatangi untuk menagih hutang yang saya lakukan. Seingat saya begitu.

Di mini market modern, tentu saja hal tersebut tidak bisa kita lakukan. Meskipun itu hanya 100 perak. Bahkan kalau bisa, para pekerjanya malah akan meminta uang Anda sejumlah sekitar 200 perak dengan dalih pertanyaan apakah mau disumbangkan atau tidak.

Entah sumbangan itu di kemanakan. Yang jelas mereka hanya "meminta" tanpa ada informasi dimana kita akan mengecek pembagian sumbangan tersebut.
Tetanggaku, idolaku!
Jadilah orang dimana tetanggga Anda akan berpikir atau mengucapkan ungkapan diatas. Ditengah permukiman yang padat, pengunjung kios biasanya juga tidak begitu ramai. Dengan kondisi demikian, mereka tetap membuka kios untuk melayani tetangganya. Meskipun dengan untung yang sebenarnya sedikit saja.

Bahkan pada saat tengah malam, tidak jarang rumah jualan mereka di ketok-ketok pintunya oleh tetangga lainnya untuk membeli sesuatu. Dan, tidak banyak keluhan dari mereka yang terdengar di tengah rasa kantuk yang tak tertahankan. Bukan demi keuntungan, tapi tetangga yang telah dianggapnya seolah keluarga sendiri.

Saat tidak menerima untuk berutang, terkadang juga para pedagang kios ini menjadi bahan omongan yang lain. Padahal mungkin waktu itu, kas mereka juga lagi kosong karena masih banyak pengutang lainnya yang belum membayar. Disisi lain, mereka juga mungkin sedang butuh biaya untuk keperluan keluarganya.

Pokoknya kalau salah sedikit saja, bisa-bisa dengar omongan yang enggak-enggak. Kan kasihan. Tapi mereka tetap saja bertahan. Peduli amat dengan semua itu. Sama-sama cari makan ini.

Masih banyak manfaat lainnya dengan membudayakan berbelanja di kios tetangga rumah kita, namun rasa kekeluargaan yang tercipta, selalu menjadi alasan utama saya melakukannya. Timbal balik yang sama-sama didapatkan pun lebih beragam dalam dunia sosial keseharian.

Tapi setidaknya, dengan melakukan ini maka kita juga berperan penting dan secara langsung mengembangkan perekonomian lokal. Dan, ketika ekonomi lokal yang kecil ini semakin berkembang, tidak menutup kemungkinan bisa membantu perekonomian nasional.

Maka jayalah Indonesia-ku.

Baca juga: Menjadi "Cerewet" Agar Barang Dagangan Laku

Meskipun Anda juga sering bepergian ke ritel raksasa, jangan lupakan juga untuk "menengok" sesaat orang di sebelah rumah Anda. Lebih mending beli beras disana sebulan sekali, ketimbang tidak pernah sama sekali (misalnya).

Bagaimana?


EmoticonEmoticon