Menjadi "Cerewet" Agar Barang Dagangan Banyak Lakunya

Menjadi "Cerewet" Agar Barang Dagangan Banyak Lakunya

Entah pendapat orang lain seperti apa, namun orang yang cerewet itu bagi saya menarik. Lucu saja. Ketika memiliki teman yang demikian, ada saja bahan yang membuat percakapan menjadi ramai hingga lupa waktu. Suasana juga tak akan sehening sebelumnya ketika mereka yang cerewet ini datang.

Jujur saja, orang yang dikategorikan sebagai "mulut ember" ini sangat saya perlukan. Baik dalam dunia pergaulan, bahkan dalam dunia bisnis sekalipun. Tapi bukan yang cerewetnya itu menggosip atau membicarakan hal-hal yang negatif ya. Cukup untuk hal yang berguna saja.

Menjadi cerewet saat berjualan

Jenis cerewet dalam dunia dagang yang saya maksudkan bisa dialihkan untuk melayani pelanggan. Tidak hanya merespon ketika ada pertanyaan dari pihak calon pembeli saja, namun juga berinisiatif sendiri untuk memulai percakapan yang berhubungan dengan bagaimana memecahkan permasalahan mereka tatkala hal tersebut berkaitan dengan produk yang kita jual.

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi atau berawal saat saya berdagang di Papua. Kami yang sebagai pedagagng, harus tetap aktif melakukan komunikasi dengan calon pembeli yang sudah memutuskan untuk masuk ke dalam kios kami.

Sayang kan, pelanggan sudah masuk, namun keluar tanpa membawa barang sedikitpun!?

Jadi, saya berpikir bagaimana cara agar mereka mau membeli dagangan saya. Tanpa harus repot untuk melihat-lihat dan menawar barang yang sama di kios sebelah. Pokoknya bagaimana caranya untuk "menahan" mereka berlama-lama dalam kios dan akhirnya memutuskan untuk membeli. Tentu saja, tidak ada paksaan dalam melakukannya.

Ternyata salah satu caranya adalah dengan menjadi orang yang cerewet. Sampai menanyakan hal yang tidak ada hubungannya dengan barang dagangan pun saya lakukan. Tapi, tetap dalam topik yang tidak sensitif seperti masalah pribadi (asmara) dan lainnya. Ibaratnya, sok kenal saja tanpa melukai perasaan.

Tapi jangan juga dikonotasikan bahwa percakapan tersebut hanya sekedar agar barang yang saya jual laku. Karena pada banyak kesempatan, percakapan yang kami lakukan pun sama-sama kami nikmati. Kadang sampai tertawa terbahak-bahak di dalam kios dengan pelanggan saya.

Saya menyadari bahwa pada dasarnya manusia itu diliputi oleh berbagai macam permasalahan dalam hidupnya. Dengan kesadaran ini, baik pedagang maupun konsumen sudah seharusnya saling menghargai dan juga menghormati. Jika bisa saling membahagiakan, justru lebih baik lagi meskipun sekedar senyum sesaat.

Saat pembeli memutuskan untuk melakukan transaksi, mereka pun terkadang memiliki beban baru. Karena banyak juga yang memiliki sisa uang yang belum bisa untuk membeli barang lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, barang yang ingin di beli terkadang harus diturunkan harganya bahkan diberikan secara gratis. Hitung-hitung sebagai bantuan bagi manusia lainnya. Saya sendiri memang sering menganggap mereka bukan sebagai konsumen, namun sebagai manusia yang sebenarnya. Manusia yang sama dengan saya. Tidak sekedar sebagai "alat" untuk meraup keuntungan.

Saya pun ingin dianggap demikian, bukan sebagai konsumen, pedagang, dan sebagainya. Tapi sebagai manusia.

Menjadi cerewet memang tidak bisa diterapkan pada semua orang, apalagi mereka yang terburu-buru. Namun, seiring waktu berjalan, Anda pasti akan tahu juga orang seperti apa yang enak untuk diajak berkomunikasi.

Ya, komunikasi sebagai bentuk dari layanan pelanggan dengan tampil sebagai manusia seutuhnya.

Banyak diantara mereka yang masuk ke kios kami juga ingin berkenalan. Tidak sekedar saling sapa atau menanyakan harga barang berapa.

Bahkan, percakapan terkadang mengarah ke persoalan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan barang dagangan. Ngomongin pemancingan lah, hewan buruan dan sebagainya. Untuk ukuran ritel besar atau sekelas mini market, percakapan seperti ini memang sulit untuk dilakukan. Terlebih jumlah pembeli yang banyak. Kalaupun bisa, percakapannya itu-itu saja. Seolah terkonsep karena aroma "dikendalikan" oleh si bos sangatlah besar. Tidak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi.

Tapi, untuk ukuran kios kecil seperti yang kami miliki, kebahagiaan tersebut bisa dirasakan.

Artikel terkait: Meningkatkan Jumlah Pelanggan dengan Kartu Nama Bisnis

Dengan segala persoalan hidupnya, mereka memutuskan untuk memasuki kios kami. Beragam produk yang hadir juga pada dasarnya digunakan untuk menjawab berbagai persoalan manusia. Membantu kita untuk menjadi mudah dalam menjalani hidup.

Dengan bermodal komunikasi inilah, tak jarang mereka yang wajahnya baru dilihat kemudian menjadi pelanggan tetap bagi berbagai barang yang kami jual. Padahal, untuk melakukannya, waktu yang diperlukan hanya beberapa menit saja.

Setelah pertemuan pertama, pertemuan berikutnya pun tetap dalam atmosfir yang sama. Saling membahagiakan lewat obrolan tak tentu arah.

Tidak perlu heran ketika ratusan ribu hingga jutaan mau mereka keluarkan, dan seolah kios lainnya tidak perlu lagi mereka masuki. Untungnya pun dobel bahkan berkali lipat, dapat kenalan yang mau memberikan kita tambahan pendapatan.

Sebagai seorang pedagang, bagi saya itu merupakan kebahagiaan tersendiri.

Hanya bermodal cerewet dalam tataran komunikasi yang efektif, maka semua itu tidak mustahil untuk tercapai.

Bagaimana menurut Anda?


EmoticonEmoticon