Langsung ke konten utama

Dana ADD dan Peningkatan Penjualan Barang di Pedalaman Papua

Saya ingin berbagi pengalaman ketika berjualan di kios di daerah pedalaman Papua. Pengalaman ini memiliki korelasi antara Alokasi Dana Desa (ADD) dengan meningkatnya penjualan barang.

Kata "pedalaman" disini merujuk pada kawasan yang memiliki aksesibilitas yang cukup sulit untuk dijangkau, setidaknya angkutan transportasi publik tidak seperti pada umumnya. Juga menjadi referensi dari sebuah daerah yang terpencil. Para pedagang yang merantau di Papua pun banyak menggunakan istilah pedalaman ini.

Berbicara mengenai aksesibilitas, lalu lintas barang dan orang yang ada di daerah pedalaman banyak yang menggunakan perahu dari yang ukurannya cukup besar hingga yang kecil sekelas sampan. Hal ini disebabkan jalur utamanya adalah sungai.

Jika di daerah perkotaan besar lainnya dana ADD tidak begitu bisa dirasakan langsung oleh kebanyakan masyarakat desa, lain halnya dengan yang terjadi di Papua. Dalam 1 desa, bisa dikatakan hampir seluruhnya menikmati pemberian dana tersebut. Tidak hanya merasakan hasil pembangunannya, namun benar-benar "uangnya" dalam arti yang sebenarnya.
"Megang duit yang bisa dibelanjakan."
Tapi hal ini juga mungkin tidak terjadi di seluruh wilayah Papua, namun kalau di daerah pedalamannya, bisa dibilang kemungkinanya sangat besar.

Yang terjadi adalah, ketika sebuah rencana pembangunan dilaksanakan, kebanyakan masyarakat juga berperan penting sebagai tenaga kerja. Dari yang sudah dewasa maupun yang belum cukup umur. Mempekerjakan anak di bawah umur memang memiliki larangannya tersendiri, namun terkadang kondisi kesejahteraan dan pendidikan yang minim membuat hal tersebut terlihat biasa di daerah pedalaman.

Mereka juga butuh makan, jadi saya tidak akan membahas secara mendalam mengenai hal tersebut. Dan, banyak faktor lainnya yang juga turut mempengaruhi mereka melakukannya. Yang jelas, ini terjadi hingga saat ini.

Salah satu contoh rencana membangunan di desa yang saya tahu adalah pengembangan jalan dalam mendukung fungsi transportasi (pemindahan). Biasanya dalam wujud pengaspalan maupun jalan yang dibuat dari beton (paving).

Kebanyakan material yang dibutuhkan, biasanya disediakan oleh masyarakat itu sendiri apalagi diinstruksikan langsung oleh pihak desa seperti batu dan pasir. Dan itu baru 1 proyek saja, sementara masih ada juga yang lainnya.

Masyarakat berlomba-lomba mengadakannya sesuai dengan jumlah yang telah disepakati. Dan, ketika berbagai bahan telah tersedia, banyak juga diantara masyarakat yang melanjutkan pekerjaan sebagai tukang. Entah mengaduk semen, menimbanya ke lokasi pembangunan jalan dan sebagainya.

Uang yang didapatkan tentunya berkali-kali lipat karena telah menjual material dan bekerja. Ketika uang sudah di tangan, jangan heran kalau di daerah pedalaman banyak anak-anak yang bahkan baru seumuran kelas 1-3 Sekolah Dasar memegang uang 500 ribu dengan pecahan 100 ribu-an. Hal tersebut sudah dianggap biasa.

Apalagi orang dewasa. Belanja di kios hingga berjuta-juta juga sudah menjadi hal yang tidak asing lagi. Bagi pedagang, hal ini tentunya seolah "mandi uang." Dan hal tersebut berlangsung selama berminggu-minggu. Dalam sebulan, biasanya rata-rata kios memperoleh total penjualan minimal 100 juta. Hal ini saya ketahui karena banyak diantara kami yang sering membicarakan pencapaian bulanan tersebut.

Banyaknya penghasilan tersebut tentunya dipengaruhi juga oleh pola belanja masyarakat. Terlebih, tidak banyak diantara mereka yang berpikir untuk menabung dan memanfaatkannya di masa depan. Istilah untuk hal ini bagi para pedagang sering dianggap, "Hari ini pegang uang, kalau bisa habiskan hari ini juga."

Saya sendiri terkadang merasa iri dengan apa yang mereka lakukan. Karena bagaimana pun juga, uang bukanlah sesuatu yang bisa "didewakan." Pola pikir tersebut juga tentunya didukung oleh pola bertahan hidup yang sangat patut dicontoh. Ada uang atau tidak, mereka tetap bisa mencari makan, dengan mengkonsumsi sagu ditambah daging rusa, babi, ayam, maupun ikan sebagai lauknya.

Alam yang terjaga dengan baik memang masih banyak menyediakan bahan makanan bagi mereka. Tidak seperti di banyak daerah maju lainnya yang menggerus lahan produktif yang bisa menjadi sumber bahan makanan utama dan diganti dengan berbagai bangunan industri. Ujung-ujungnya, hasil industri tersebut juga malah digunakan untuk beli makan.

Akhirnya, banyak orang kota yang capek sendiri. Padahal, mereka terkenal pintar-pintar dan cerdas. Katanya sih begitu.

Ketika masyarakat pedalaman sudah pegang uang, banyak diantaranya memang sangatlah konsumtif. Mereka pun sebenarnya cukup sadar mengenai pentingnya menabung. Namun, minimnya pendidikan serta pengaruh dari lingkungan sekitar yang cukup besar, akhirnya hal tersebut tidak mudah untuk direalisasikan.

Pembelanjaan yang bersumber dari Dana ADD ini tentunya bisa terjadi setidaknya sampai 2 bulan. Mengingat pencairan dananya yang berlangsung selama 2 tahap/periode. Jadi, setidaknya selama 1 tahun bisa mandi uang sebanyak 2 kali hanya dari ADD saja.

Sayangnya, ketidaktahuan masyarakat dalam hal membaca, menulis dan menghitung, menjadi peluang bagi pedagang yang tukang tipu. Ya, saya akui hal tersebut juga terjadi. Dan, terkadang ketika si penipu ketahuan, maka siap-siap saja untuk khawatir. Setidaknya banyak diantara masyarakat yang tidak akan berbelanja di kios oknum tersebut.

Apalagi berbisnis dengan cara-cara kotor seperti ini, tinggal tunggu saja kapan akan merugi sendiri secara finansial.

Saat sebelum pencairan dana ADD ini, kebanyakan penjual sudah mempersiapkan modal untuk memperbanyak barang di kiosnya. Bahkan, lebih banyak dari biasanya karena sumber penghasilan dari banyaknya masyarakat yang memegang uang terjadi selama hingga 1-2 bulan. Entah nanti akan berbelanja barang di kota terdekat (masih dalam 1 wilayah kabupaten/kota yang sama), di kota lainnya seperti Timika dan Merauke ataupun memutuskan untuk ke Pulau Jawa.

Periode belanja masyarakat tersebut sepertinya juga merupakan yang ter-ramai selama setahun. Berbeda halnya ketika hari-hari besar lainnya seperti Natal dan tahun baru yang momennya cukup singkat. Sedangkan, hari-hari besar Islam, yang ramai hanya di daerah perkotaan saja yang kondisi masyarakatnya lebih beragam dibanding daerah pedalaman.

Bagi pemilik grosiran di Jawa sebenarnya bisa memanfaatkan momen seperti ini. Setidaknya memasukkan jadwal pencairan ADD di Papua dalam rencana penjualan produknya. Siapa tahu bisa merasakan juga yang namanya mandi uang.

Hal yang perlu Anda lakukan hanyalah menyiapkan katalog produk selengkap mungkin karena banyak diantara kios yang ada, menjual berbagai barang (campuran). Serta bagaiamana supaya Anda diketahui oleh pedagang lainnya dari Papua. Entah menggunakan toko online, menghubungi kerabat dan teman yang mungkin bekerja di Papua dan sebagainya. Silahkan dipikir saja sendiri.

Sepertinya, sesingkat itu saja pengalaman mengenai hubungan antara dana ADD dengan peningkatan penjualan barang di Papua. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan sampaikan melalui kolom komentar atau melalui akun G+ blog ini.

Semoga bermanfaat dan sukses selalu untuk Anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Merubah Ekstensi File di Windows 10

Format atau ekstensi file di laptop Anda pasti akan sangat beragam. File dokumen bisa memiliki ekstensi .docx jika menggunakan WPS Office ataupun Microsoft Office Word, .txt, .pdf, .xlsx untuk dokumen Excel dan masih banyak lagi. Begitu juga foto/gambar dengan format .jpeg, .jpg, .png, maupun .gif dan sebagainya.

Sangat variatif karena banyaknya jenis file yang ada.

Cara Mengatur Mode Sleep di Windows 10

Untuk bisa mengatur mode Sleep di Windows 10 ini, caranya sangatlah mudah dilakukan untuk dilakukan.

Tujuan pengaturan ini bisa beragam.

Ada yang melakukannya untuk menghemat batrei laptop, antisipasi agar layar laptop bisa padam ketika ditinggal tidur namun tidak ingin shutdown laptop meskipun juga bisa dengan cara hibernate, dan lain sebagainya.

Cara Agar Ikon Folder Tidak Menampilkan Thumbnail File Didalamnya

Di Windows 10 dan versi sebelumnya, ketika menampilkan ikon folder dalam ukuran yang besar (large) biasanya juga akan menjadikan isi folder tersebut sebagai bagian dari bagaimana folder ditampilkan ke pengguna. Misalnya isi folder Anda adalah beberapa foto. Maka salah satu diantara foto tersebut akan menjadi thumbnail dari tampilan folder. Ikon folder yang awalnya seperti hanya terdiri dari 1 warna kemudian bercampur dengan berbagai warna bahkan foto yang ada didalamnya.