7 Kelalaian Saya Saat Nge-Blog

Kelalaian blogging

Yang namanya kelalaian, memang masih bisa diperbaiki atau diatasi jika kesempatan dan niat untuk melakukannya masih ada. Dalam berbagai hal, termasuk dunia blogging itu sendiri. Meskipun bukan blogger profesional yang bahkan sangat senang hati dianggap sebagai pemula, berbagai hal yang saya lakukan ini mungkin juga bisa Anda manfaatkan agar apa yang seharusnya bisa saya hindari, mampu menjadi pelajaran bagi para pembaca sekalian.

Tentunya ini bukan tentang salah dan benarnya dalam melakukan aktivitas terkait blog. Namun saya rasa, ada beberapa hal yang juga patut menjadi perhatian agar blogging yang kita lakukan menjadi lebih efektif dan efisien, serta diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kedepannya. Jika nanti bisa untuk membantu blog Anda mendapatkan penghasilan, tentu saja saya akan sangat senang mendengarnya lewat komentar di bawah.

Langsung saja, ya.

1. Publikasi artikel secara terburu-buru

Hal pertama ini kerap terjadi pada diri saya sendiri. Apalagi mengelola beberapa blog yang tentu akan menguras tenaga, waktu dan pikiran. Memposting artikel secara terburu-buru biasanya memiliki dampak tersendiri bagi saya. Terkadang, beberapa menit atau hari setelah melakukannya, akan ada saja yang diubah. Baik terkait judul maupun isi artikel.

Padahal terkadang sudah yakin dan juga telah membaca berulang-ulang sebelum publish. Proses pengeditan pun sudah selesai dilakukan. Tapi, tetap. Ada saja yang terlewati. Saya sendiri tidak menuntut bahwa harus sempurna karena tidak akan mungkin bisa seperti itu.

Bisa jadi juga karena saya kurang teliti atau teledor.

2. (Masih) sering utak-atik template

Di blog ini saja mungkin sudah sekitar 4 sampai 5 kali saya melakukannya. Baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian yang sifatnya minor. Padahal jelas-jelas pembaca tidak begitu memikirkan hal ini. Toh saya yakin, kebanyakan akan fokus ke konten yang kita sampaikan.

Tapi, jujur saja. Beberapa waktu belakangan hal ini kerap terjadi dalam waktu yang berdekatan. Syukurnya, blog niche yang lainnya tidak ikut mengalami utak-atik template. Hal utama yang menjadi penyebabnya mungkin karena blog ini hanya sebagai wadah untuk menulis secara sembarangan saja. Tidak ada target apapun yang ingin dicapai untuk blog ini selain menginformasikan hal-hal yang menurut saya positif dan berguna.

Sikap sembarangan saya seperti itu mungkin juga akhirnya berpengaruh pada kebebasan untuk melakukan pengeditan tampilan blog. Meskipun tidak ada target sama sekali, bagaimana pun kegiatan merubah template ini akan menghabiskan waktu. Dan bisa jadi hanya akan berujung pada kesia-siaan saja.

3. Tidak menyertakan minimal 1 gambar dalam artikel

Entah karena buru-buru seperti poin 1 atau karena apa. Padahal, ketika di laptop atau hp tidak memiliki foto yang bisa merepresentasikan artikel, kita bisa mendapatkannya secara gratis di website lainnya. Katakanlah di Pixabay untuk mendapatkan foto bebas royalti.

Mungkin sayanya saja yang malas untuk melakukannya. Kalau di blog ini, masih banyak memang artikel yang tidak memiliki gambar didalamnya. Meskipun saya juga tidak begitu peduli. Namun, blog-blog lainnya yang digunakan untuk monetisasi dengan Google Adsense, tentu hal ini harus saya perhatikan agar pengunjung juga bisa betah berlama-lama. Setidaknya ada variasi dalam blog agar tidak terkesan monoton karena berisi teks saja.

4. Lupa memasukkan atribut gambar dalam postingan

Nah, yang ini juga kadang masih luput dari perhatian saya meskipun frekuensinya bisa dibilang sangatlah jarang. Beberapa artikel saya lainnya terkadang tidak muncul di halaman 1 pencarian web untuk kata kunci yang ditargetkan. Namun, kadang ketika memeriksa hasil penelusuran gambar, foto yang ada di blog saya tersebut langsung bisa dilihat tanpa melakukan scroll ke bawah.

Meskipun pengunjung yang didapatkan tidak sebanyak klik dari halaman penelusuran web, namun ya lumayan juga buat tambah-tambah statistik trafik. Apalagi untuk kelas blog tutorial.

Di Blogger sendiri, atribut ini bisa dibuka pada pilihan Properties saat mengklik gambar. Disana nanti akan muncul title dan juga alt text nya.

5. Menghapus halaman pendukung blog

Halaman (page) pendukung yang saya maksudkan seperti Tentang, Kontak dan sebagainya. Di blogger sendiri, url halaman biasanya akan mengikuti judul dari postingan halaman tersebut. Misalnya judulnya adalah About, maka url halaman ini akan secara otomatis menjadi namablog.blogspot.com/p/about.html. Suatu ketika, saya pernah memutuskan untuk menghapus halaman ini. Namun, beberapa hari atau minggu kemudian memutuskan untuk membuatnya kembali (sama persis). Labil kan saya ini!?

Sayangnya, meskipun judul postingannya sudah sama, namun urlnya tidak akan lagi sama dengan yang sebelumnya. Biasanya menjadi namablog.blogspot.com/p/about_24.html. Atau lainnya dengan format demikian.

Untuk pengunjung memang tidak akan ada pengaruhnya sama sekali, namun kadang saya sendiri tidak menyukainya. Ngotot emang. Tapi, ya gak suka saja. Gak sreg dalam hati.

6. Tidak melakukan backup postingan blog

Saya awalnya menganggap hal ini tidak penting sama sekali. Apalagi tidak pernah satu pun dari blog saya yang mendapatkan penalti dalam bentuk apapun dari mesin pencari. Namun, ketika memutuskan beralih ke Wordpress Self-Hosted, saya baru tahu bahwa untuk meng-import isi blog sebelumnya ke domain baru ini bisa memanfaatkan hasil backup blog yang ada. Jadi tidak perlu copy paste atau menulis ulang artikel yang sudah ada untuk keperluan mirgasi platform.

Pernah juga salah satu blog saya yang sudah saya hapus, kontennya entah masih di draft blog tersebut atau menyimpannya secara online yang entah di akun mana. Ketika ingin mempublikasikannya di blog ini, alhasil tentu saja tidak bisa karena blognya saja sudah tidak ada dan backupnya pun entah dimana. Padahal, kalau disimpan, kapasitasnya paling cuma 1 MB saja. Mungkin juga tidak sampai.

Karena hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan backup ini sebagai salah satu hal yang perlu untuk dilakukan. Jika menyimpan datanya secara online, Google Drive menjadi pilihan pertama saya untuk melakukannya.

7. Tidak membeli domain sesegera mungkin

Sekitar 2 tahunan mengenal dunia blog, jujur, tidak satupun nama domain saya beli. Padahal, harganya paling 100 ribuan. Kalau lagi promo, bisa sampai dibawah 50 ribu per tahun.

Padahal kalau dipikir, jika saya beli domain dan mengisinya dengan artikel setidaknya sampai 20 saja. Dalam beberapa bulan sudah bisa menggaet banyak pengunjung bahkan hingga ribuan per bulan atau lebih. Hal ini berdasarkan pengalaman membangun blog niche yang sudah lumayan trafiknya dan tidak ada penurunan yang signifikan. Bahkan cenderung bertambah terus saat ini tanpa membuat backlink sendiri seperti PBN, juga belum ada postingan terbaru.

Saya jadi yakin bahwa blog tersebut setidaknya bisa dijual dengan harga 300 ribu (minimal). Kalau sudah setahun, tentu harganya akan meningkat lagi. Terlebih jika bisa mendatangkan ribuan pengunjung per hari. Untuk artikelnya juga cukup mudah untuk membuatnya. Bisa dikatakan tidak ada kerja keras sama sekali.

Jadi daripada sekedar mengharap penghasilan dari Google Adsense, jual beli seperti ini juga sepertinya menarik untuk dilakukan. Apalagi jika punya banyak atau beberapa blog. Saya kira lumayan. Mohon doanya. hehe.

Meskipun berbagai kelalaian saya diatas bisa diatasi bahkan dengan sangat mudah, namun beberapa diantaranya tentu tidak akan sama lagi seperti semula. Apalagi pada poin ke-5 dan juga 6 yang sangat memprihatinkan.😓

Namun saya berharap, apa yang berusaha saya sampaikan diatas bisa Anda antisipasi secepatnya. Jika masih ada yang belum jelas, silahkan sampaikan lewat komentar. Semoga bermanfaat dan sehat selalu untuk Anda sekeluarga.


EmoticonEmoticon