Pengalaman Mencegah Penyakit Malaria di Tanah Papua

Pengalaman Mencegah Penyakit Malaria di Tanah Papua

Hampir menginjak masa 4 bulan saya berada di Papua dan Alhamdulillah tidak pernah sekalipun terjangkiti penyakit malaria. Pengalaman pencegahan ini saya buktikan sendiri dari saran keluarga yang sudah lama menetap disana dan juga para pedagang lainnya.

Saya memang lahir dan besar dalam keluarga pedagang. Begitu juga ketika menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya di tanah yang terkenal dengan burung surganya ini alias Cendrawasih. Kesananya memang untuk berdagang.

Sekitar tahun 2003 silam saat masih kecil, saya sendiri pernah mengalami penyakit ini. Bagaimana susahnya untuk beraktivitas karena panas tubuh yang sangat tinggi dan selalu merasakan pusing bahkan sekedar untuk berdiri dan berjalan. Menyentuh air pun menjadi enggan. Meludah saja harus sambil berbaring. Mungkin karena masih manja karena faktor umur waktu itu.

Awal Agustus 2017 yang lalu berkesempatan lagi kesana. Kali ini menuju daerah pedalaman yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 hari 1 malam dari wilayah Kabupaten Asmat. Dari Distrik Agats lebih tepatnya.

Selama hampir 4 bulan di daerah pedalaman ini, khusus untuk pencegahan penyakit malaria, saya mempercayakannya pada kedua orang tua dan kerabat serta para pedagang lainnya. Dari saran merekalah tercipta tulisan ini.

Pencegahan malaria
Foto oleh: CreativesolutionisT.

Perlu diketahui bahwa di banyak daerah pedalaman Papua, penyembuhan malaria oleh masyarakat setempat dipercayakan pada obat yang disebut sebagai Pil Kina . Obat ini sendiri sebenarnya sudah dilarang peredarannya, setidaknya tidak bisa diperjual-belikan secara bebas oleh para pedagang. Beberapa kali petugas kesehatan dari Distrik melakukan pengendalian peredaran obat ini, masih juga ditemukan beberapa di dalam kios.

Cukup dilematis membahas persoalan ini. Ketika masyarakat ingin berobat ke Puskesmas, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai setidaknya ratusan ribu karena aksesnya yang masih cukup jauh dan jalur utamanya adalah sungai. Dari beberapa hasil bercakap dengan masyarakat, banyak diantara mereka juga yang tidak percaya dengan petugas kesehatan karena lamanya masa penyembuhan malaria dari obat yang mereka berikan. Sementara mengkonsumsi Kina, khasiatnya bisa langsung dirasakan beberapa jam kedepan.

Pil ini sendiri memang menjadi primadona disana, terutama daerah pedalaman dengan segala keterbatasan yang ada.

Mencegah penyakit malaria di Papua

Kembali ke pembahasan bagaimana saya dan banyak orang lainnya mengambil langkah preventif agar tidak terkena penyakit ini. Karena kami yang mengalaminya adalah sebagai pedagang, maka pola dan kondisinya mungkin akan berbeda dengan pekerja dari sektor lainnya.

1. Menjaga pola makan dan minum

Hal yang paling dijaga ketika disana adalah, jangan menganggap remeh yang namanya perut dalam keadaan lapar. Maksud saya begini. Ketika sudah lapar, jangan menunda-nunda lebih lama untuk tidak mengkonsumsi apapun.

Sebagai pedagang, kadang dalam waktu-waktu yang demikian kios sedang ramainya. Jadi, harus pintar-pintar mencari cara mengkonsumsi makanan. Entah itu makanan yang berat atau sedikit makanan ringan untuk menunda lapar. Pokoknya, perut jangan sampai kosong.

Akan lebih baik lagi untuk mengkonsumsi makanan ketika kita belum terserang rasa lapar. Terlebih saat menjaga barang dagangan dimana calon pembeli tidak bisa dipastikan kapan akan datang. Untuk air sendiri jangan lagi ditanya, botol air mineral selalu tersedia di dekat meja kasir agar saya lebih mudah mengkonsumsi.

Poin pertama ini yang paling sering saya dengar dari mereka yang sudah bertahun-tahun di Papua dan memang saya ikuti. Apalagi, berdagang juga membutuhkan energi karena harus mengangkat barang kesana-kemari. Memang dimanapun dan tak hanya terkait malaria saja untuk menjaga pola makan ini. Namun ketika berada di Papua, hal ini jangan sampai diremehkan sedikit pun.

Semakin sering disepelekan, hati-hati saja jika itu terjadi berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.

Saya tidak tahu banyak mengenai dunia kesehatan, tapi sepertinya jelas bahwa energi yang kita dapatkan dari makanan dan minuman juga akan menjaga daya tahan tubuh (imunitas). Mungkin daya tahan tubuh tersebutlah yang mencegah kita terhadap berbagai penyakit termasuk malaria.

2. Jangan kelamaan istirahat

Saat kios kami sepi di siang hari, waktu istirahat itu cukup banyak bisa didapatkan. Bahkan bisa istirahat sampai sore. Kalaupun ada pembeli, masih bisa dihitung jari. Saya sendiri tetap disarankan paling lama istirahatnya 1 jam saja. Jangan terbawa suasana. Entah mengisinya dengan mengatur ulang barang yang berserakan, menyapu, ngobrol sama pedagang sebelah, lucu-lucuan sama masyarakat dan sebagainya.

Dari banyak sumber, mengatakan bahwa salah satu penyebaran penyakit malaria adalah melalui gigitan nyamuk. Lupa saya nyamuk apa namanya, belum pernah kenalan baik-baik soalnya. Dulu juga pas kena malaria, nyamuknya juga gak izin dan gak ngucapin pamit sama saya. Tapi sebenarnya, dari beberapa kota dan daerah yang pernah saya singgahi di Papua, keberadaan nyamuk di lingkungan manapun justru sangatlah sedikit.

Serius.

Jika dibandingkan dengan Surabaya, justru banyakan nyamuk disana. Mungkin karena selokannya yang kotor dan banyak sampah. Di Papua justru nyamuk jarang ditemui. Tapi sekali ketemu, hati-hati.

Saya sendiri tidak tahu apa hubungannya antara lama waktu istirahat dengan potensi untuk terkena maupun mencegah penyakit malaria. Yang jelas, saya manut saja.

Begitu juga pagi. Kalau bisa bangunnya subuh. Mau olahraga, masak atau sekedar ngopi. Jangan kelamaan juga tidurnya. Di daerah pedalaman yang saya tempati, sekitar jam 10 malam sebenarnya sudah berkabut. Tinggal salju aja yang gak turun disana. Kondisi seperti ini yang menuntut untuk lama-lama dalam berselimut. Padahal, ini juga bisa membuat kita rentan terhadap berbagai penyakit karena kelamaan memejamkan mata. Apalagi tidak dibarengi dengan aktivitas yang mengeluarkan keringat.

3. Segera berobat ke petugas kesehatan

Ini khusus mereka yang baru menginjakkan kaki di Papua. Demam sedikit memang bukan berarti Anda terkena malaria. Tapi, jangan juga dianggap remeh demam tersebut. Baiknya jika merasa badan sedikit sakit, langsung saja mencari petugas kesehatan supaya bisa diketahui apa penyakitnya.

Kalau Anda sering tidak begitu menghiraukan berbagai gejala yang Anda rasakan saat masih di kota asal, jangan lakukan itu di Papua. Jangan sok jago lah ibaratnya. Takutnya, sore merasa demam dikit, malamnya ternyata muntah-muntah, panas dingin, dan sebagainya. Kan repot. Apalagi kalau tinggal sendiri.

Karena itu, poin ketiga ini bisa berupa langkah penyembuhan, juga bisa sebagai langkah pencegahan.

Artikel tidak terkait: Usus Buntu Sembuh Dengan Bahan Alami Tanpa Harus Operasi

Dari ketiga saran yang saya lakukan diatas yang bersumber dari para pedagang, intinya sebenarnya hanya ada 1 saja. Jaga diri Anda untuk tetap sehat dan bugar. Caranya? Makan dan minum serta beristirahat dengan baik (secukupnya).

Terima kasih dan semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon