Orang Kampung Naik Pesawat, Ini Pengalaman Pertama, Kedua dan Ketiga Saya

Orang Kampung Naik Pesawat, Ini Pengalaman Pertama, Kedua dan Ketiga Saya

Sebelumnya, menggunakan pesawat sebagai salah satu moda transportasi bagi saya adalah hal yang "wajib" untuk dihindari. Berkali-kali ditawari oleh pihak keluarga ketika waktu pulang kampung tiba, namun saya memilih untuk menghindar dengan berbagai alasan.

Alasan paling jujur yang pernah saya utarakan adalah karena takut. Terus terang saja, yang ada di pikiran saya ketika membayangkan naik kapal terbang adalah kekhawatiran akan terjadi "apa-apa." Lalu berpikir, jika ada apa-apa, saya bisa apa? Kalau naik kapal laut, masih bisa berenang, pakai pelampung, dan berbagai cara lain untuk bertahan hidup, lah kalau di pesawat!?!?

Berkali-kali diyakinkan bahwa semua transportasi punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Namun, sekali pun saya tidak bergeming. Tetap pada ketakutan tersebut. Pokoknya, gak mau deh. Titik.

Sampai di kasih tahu bahwa takdir urusan Tuhan pun, saya tetap memilih untuk tidak melakukannya. Ditawari naik Garuda pun, pokoknya emmoh aku.

Hingga tiba pada suatu waktu dimana saya sedang ingin melakukan sesuatu. Hal tersebut sangat tidak memungkinkan untuk diundur. Secepatnya harus segera berada disana. Dan, naik pesawat kemudian menjadi opsi utama dan satu-satunya kala itu.

Naik pesawat untuk pertama kalinya
Foto oleh: Paulbr75.

Disaat seperti ini, tentunya saya banyak berdoa dan berharap yang baik-baik. Juga melakukan berbagai hal yang saya anggap bernilai kebaikan. Hampir berubah total hidup saya. Soalnya, semakin lama, semakin gelisah untuk berhadapan dengan badan pesawat.

Seolah-olah saya sedang berpamitan dengan kehidupan ini. Bodoh gak tuh!? Tapi begitulah adanya, meskipun terkesan tidak logis dan kampungan, atau apalah istilahnya.

Dan akhirnya, terbelilah tiket pesawat yang waktu itu seharga Rp. 800.000,- dengan lama perjalanan sekitar 1 jam menuju daerah tujuan pertama. Hati berdebar-debar ketika sudah di bandara. Terlebih menghadapi kenyataan bahwa pesawatnya kecil. Bahkan sangatlah kecil. Untuk seat-nya sendiri saya lupa menghitung, tapi muat sekitar 10-12 orang sepertinya.

Bisa dibayangkan seberapa kecil pesawatnya dengan jumlah tempat duduk tersebut?
Sepertinya, pertama kali naik saya mengucap Bismillah lalu mengucapkan salam, Assalamu'alaikum. Sepertinya, sih.

Menjadi wajar jika semakin banyak doa yang saya lantunkan dalam hati saat sudah berada di dalam, mengingat ini juga merupakan perjalanan pertama kali menggunakan pesawat terbang dan sendirian. Kalau mungkin ada kenalan seperti teman dan keluarga, mungkin akan sedikit berkurang kekhawatiran saya karena akan ada yang bisa diajak ngobrol dan juga menenangkan saya.

Total jumlah penumpang saat itu juga tidak saya perhatikan, tapi sepertinya antara 5-6 orang.

Ketika pesawat mulai lepas landas...

Mulai gak karuan perasaan saya. Meskipun juga gak sampai teriak-teriak, tapi keringatan memang iya. Waktu pertama kali mesin dinyalakan, saat itu merupakan pengantar untuk saya mulai tambah khawatir.

Dan, klimaksnya adalah ketika pesawat mulai bergerak dan bersiap-siap untuk lepas landas. Berdebar-debar hingga jika digabungkan antara film action dan horor manapun, kalah rasa tegangnya. Do'a juga mulai banyak dibaca kembali diiringi berbagai perasaan gak karuan lainnya.

Bagaimana pun saya mencoba untuk tenang, meskipun (jujur saja) waktu itu saya pengen nangis karena ketakutan. Untungnya, rasa malu terhadap orang di sebelah bisa mengatasinya.

Entah berlangsung selama berapa detik atau menit ketika pesawat masih dalam kondisi miring (climbing) saat mengudara. Saat itu, selain tegang saya juga mulai merasakan kepala saya sedikit pusing. Entah pengaruh dari rasa cemas atau karena gravitasi. Saya gak tahu.

Untuk mengatasinya, saya mengambil permen yang ada di dalam tas yang saya pangku lalu mulai mengunyah. Dan, memang sangat membantu mengurangi pusing yang saya alami. Saya menaruh salah satu tas di pangkuan tersebut supaya bisa saya peluk. Dengan harapan bahwa itu mungkin bisa sedikit membantu mengurangi perasaan khawatir.

Saat pesawat sudah benar-benar dalam kondisi yang stabil (tidak lagi miring), disitu saya secara perlahan mulai bisa tenang. Mungkin karena pemandangan seperti awan yang sangat dekat dan juga daratan yang (ternyata) begitu memukau jika dilihat dari atas.

Terharu banget dengan pemandangan yang seperti itu. Bahkan bersyukur bisa diberi kesempatan seindah itu oleh Tuhan.

Rasa khawatir tetap saja ada, tapi tidak lagi seperti semula. Pikiran sudah sedikit fokus untuk menikmati karunia Ilahi. Untung saja tidak menangis, malu lah meskipun tidak seorang pun yang saya kenal atau sebaliknya.

Ketika pesawat bersiap-siap untuk mendarat di bandara, saya tidak lagi begitu cemas. Seenggaknya, tidak secemas pertama kali seperti sebelumnya. Dan, Alhamdulillah pendaratannya pun mulus dan bisa selamat dengan baik.

Dari pengalaman itu akhirnya saya menyesal. Kok selama ini malah menghindarinya.

Bandara tersebut merupakan bandara pertama yang harus saya lalui sebelum benar-benar sampai ke tujuan akhir. Besoknya, harus terbang lagi menggunakan pesawat lain. Kalau tidak salah pesawatnya Sriwijaya Air.

Khawatir tentu masih ada, tapi saya kemudian lebih memikirkan keindahan yang sebelumnya pernah saya nikmati. Akhirnya, keesokan hari untuk penerbangan kedua pun saya berusaha untuk selalu penasaran pada "hadiah" Tuhan seperti apalagi yang akan saya lihat hari ini.

Benar saja, pengalaman terbang untuk kali kedua ini benar-benar berbeda dengan hari sebelumnya. Hampir semua hal yang terjadi kemarin, tidak lagi saya rasakan hari ini. Mungkin juga karena ruang pesawatnya yang besar dan tentunya lebih nyaman. Apalagi, pramugarinya cantik-cantik. Sedangkan, pesawat sebelumnya, baik pramugara maupun pramugari tidak ada satu pun.

Kemarin gak ada kondekturnya.😊

Penjelasan mengenai prosedur keselamatan selama di pesawat pun saya saksikan pertama kali pada penerbangan kedua ini. Ada makanan dan minumannya pula. Serta beberapa majalah pariwisata profil airline yang disediakan.

Saya juga cukup kaget dan merasa keheranan. Mengetahui bahwa ternyata diatas awan pun ada orang yang jualan. Dan hal tersebut menjadi salah satu materi yang dibawakan dalam pengumuman informasi oleh awaknya.

Pantas saja ada majalah tentang berbagai produk.

Selang beberapa saat kemudian, pramugarinya mulai membawa beberapa dagangan. Pramugari jualan, ccoooyyyyy.

Bagi saya, ini memang pengetahuan dan pengalaman baru. Namanya juga orang kampung, harap maklum saja. Sebelum gerobak dagangannya didorong mendekati tempat saya duduk, saya memang memperhatikan. Bukan ke produknya, tapi mbaknya yang cantik.

Ketika benar-benar sudah dekat, saya langsung saja memasang jurus menoleh ke awan. Biar gak jadi orang yang PHP. Kali aja mbaknya menilai saya pengen membeli karena memperhatikannya terus. Padahal, selain gak niat, uang di saku juga gak mendukung. Saldo di kartu ATM juga tidak memungkinkan.

Akhirnya, saya dilewati tanpa adanya sapaan. Gak kebayang kalau sampai harus ditanya atau diajak lihat-lihat produknya, entah jawaban seperti apa yang akan saya berikan dengan kondisi penumpang seramai itu.

Di penerbangan kedua ini, pesawat yang saya tumpangi melakukan transit sebelum menuju bandara terakhir. Berhentinya selama 3 jam kayaknya. Dan, disini juga ada pengalaman yang membuat saya semakin meyakinkan sebagai orang yang kampungan (menurut saya).

Karena membawa beberapa barang (tas), maka diantaranya saya memilih untuk memasukkannya ke bagasi pesawat saat check-in sebelumnya. Saat tiba di bandara transit ini, saya khawatir jangan sampai barang saya di dalam tas tersebut ada yang hilang.

Akhirnya mulai nanya ke bagian informasi airlines yang saya tumpangi dengan pura-pura memberitahu mereka bahwa ada sesuatu yang saya perlukan di tas tersebut. Padahal, cuman khawatir saja jangan sampai ada yang kecurian. Saya juga takut jangan sampai tas saya salah dalam penempatannya. Misalnya, karena saya menggunakan Sriwijaya, takutnya nanti terbawa ke maskapai lainnya.

Bodoh kan saya!?
Mohon untuk tetap maklum!

Setelah beberapa saat menunggu, tas-tas saya tersebut tak satupun terlihat. Sementara penumpang lain dengan mudah dan cepatnya sudah mendapatkan barang bawaannya. Beberapa ada yang saya perhatikan memang satu pesawat dengan saya, namun tidak tahu apakah mereka akan lanjut atau ini merupakan bandara akhir yang menjadi tujuan.

Akhirnya, balik lagi tanya ke bagian informasi. Mereka sepertinya tahu kalau saya ini belum berpengalaman sama sekali mengenai hal ini. Akhirnya, saya diberitahu bahwa barang yang masuk ke bagasi tersebut akan bisa saya dapatkan ketika sudah berada di bandara tujuan (yang terakhir).

Sementara saat ini hanyalah sekedar transit. Maklumlah, orang kampung.

Tidak menunggu lama, saya langsung pamit saja untuk keluar. Malu juga sih ketahuan sebagai "orang baru" gitu.😁Meskipun saya juga bersyukur bisa mendapat pengalaman seperti itu. Setidaknya bisa saya sampaikan ke yang lainnya. Sesama orang kampung. Hihihi.

Setelah itu, waktu keberangkatan berikutnya (ketiga) sudah dekat. Setelah siap-siap kembali, akhirnya berada lagi di dalam pesawat. Masih dengan maskapai yang sama.

Tidak banyak hal istimewa yang terjadi di penerbangan yang dilakukan pada sore hari ini. Hal yang paling saya ingat hanyalah adanya sedikit guncangan (turbulensi) dan waktu itu sudah malam hari. Setidaknya, hanya ada satu cerita ke yang lainnya bahwa saya juga pernah ngerasain kalau pesawat goyang, loh. Pikirnya saya memang begitu.

Dan, tibalah di bandara yang menjadi tujuan akhir perjalanan saya waktu itu. Perjalanan udara dalam waktu 2 hari dengan 3X penerbangan. Dan, itu pula saya anggap sebagai pengalaman pertama naik pesawat dengan serangkaian jadwal terbang yang terjadi dalam waktu yang singkat.

Baca juga:
Tuhan, sendirian, cemas, indah, do'a, selamat, bagasi dan malu adalah beberapa kata yang menjadi versi singkat dari cerita yang panjang ini.

Maaf ya sudah meluangkan waktu membaca artikel gak penting ini.
Anda juga boleh kok menyampaikan pengalaman pertama ketika naik pesawat. Klik aja link komentar di bawah.

Terima kasih.


EmoticonEmoticon