Saat Pedagang Memakai Bahasa yang Sama Dengan Budaya Berbeda Diatas Kapal Pelni

Saat Pedagang Memakai Bahasa yang Sama Dengan Budaya Berbeda Diatas Kapal Pelni

Sudah sangat umum di kalangan masyarakat yang saya temui bahwa orang Jawa biasanya identik dengan perilakunya yang halus (sopan) khususnya dalam hal berucap. Terlebih mengacu pada nada atau intonasi yang digunakan saat bercakap. Sebaliknya berbeda dengan yang berasal dari Indonesia timur.

Maaf-maaf saja nih. Banyak diantara saudara-saudara saya yang akhirnya harus mengelus dada karena selalu disalah-pahami sebab suaranya yang selalu dalam kondisi oktaf tinggi. Hal ini kemudian berujung pada sesuatu yang dianggap keras (kasar).

Nyatanya, diatas kapal itu memang diizinkan untuk para pedagang asongan menjajakan jualannya. Setidaknya, sudah bertahun-tahun itu terjadi di kapal pelni. Biasanya jualannya adalah makanan bagi para penumpang. Mulai dari nasi kuning dengan lauk ayam/ikan, nasi goreng, berbagai jenis minuman, hingga pakaian banyak adanya.

Saat kapal masih berlabuh di jawa, "teriakan" para penjual (orang jawa/OJ) saat beraksi tentunya tidak jauh berbeda dengan budayanya sendiri. Begitu juga ketika kapal saat berlabuh di bagian Indonesia timur (OIT). Jika diilustrasikan, mungkin akan seperti ini pengucapannya ketika menjual nasi;

OJ: nasi, nasi, nasi.
OIT: NASI, NASI, NASI.

Diiringi capslock dan ditebalkan (tegas).
Tapi ya, jangan juga diimajinasikan dengan gaya mata melotot dan menyala-nyala ya. hehe.

Banyak diantara penumpang dari manapun yang sebenarnya menjadikan hal ini sebagai bahan yang membuat mereka tertawa. Menikmati keberagaman yang ada. Bahkan saling menertawakan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap budaya yang berbeda.

Belum lagi, saat pedagang dari Indonesia timur ketika diajak tawar-menawar dan berujung pada tidak berhasilnya transaksi. Sebelumnya, kadang si calon pembeli akan mendengarkan kalimat ini;

"Jadi beli ka tidak ini, bosku?" Atau;
"Mau beli atau cuma lihat-lihat saja?"

Pertanyaan tersebut biasanya akan muncul ketika pihak penjual sudah merasa bahwa kemungkinan besar calon pembeli tersebut tidak siap untuk bertransaksi.

Terdengar kasar?

Tidak bagi kebanyakan penumpang kapal dari manapun asalnya. Hal ini (mungkin) disebabkan karena mereka maklum bahwa si penjual harus lari lagi kesana kemari untuk mencari pembeli lainnya karena waktu berlabuh kapal yang singkat. Berlarian kesana-kemari dalam arti yang sebenarnya. Dari dek 3 paling bawah sampai dek 7 kapal. Naik-turun tangga sambil berdesak-desakan.

Bagi yang sering bepergian menggunakan jalur laut pun, hal tersebut bukan lagi sesuatu yang baru. Saking seringnya hal ini terjadi, sudah dianggap biasa. Entah ini benar atau tidak, yang jelas; diatas kapal punya aturan sendiri mengenai hal ini meskipun sifatnya tersirat.

Bagi yang tidak terbiasa, harus cepat-cepat beradaptasi. Kalaupun mau "melawan", silahkan saja. Tidak akan ada masalah, kok. Serius.
Saya sendiri menganggap bahwa ini hanyalah serba-serbi dari sebuah keberagaman yang ada. Beginilah Indonesia adanya meskipun hanya dari satu sudut pandang/fenomena yang sederhana. Toh, kejadian diatas juga bagi saya sangat lucu. Setidaknya bisa mengurangi penat sesaat karena perjalanan terkadang membutuhkan waktu berhari-hari menuju tempat tujuan.

Anda punya pengalaman lain?


EmoticonEmoticon