Berwisata ke Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Sejarah Melawan Penjajah

Berwisata ke Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Sejarah Melawan Penjajah

Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Sejarah Melawan Penjajah - Kemerdekaan yang dimiliki Indonesia pada saat ini tidak lepas dari perjuangan para pahlawan pada jaman penjajahan yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Terdapat banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu perlawanan bangsa ini melawan penjajah, yang kemudian dijadikan sebagai tempat wisata untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus belajar sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Salah satu yang paling terkenal di antara tempat-tempat bersejarah tersebut adalah Benteng Fort Rotterdam, sebuah bangunan yang penuh dengan sejarah perjuangan rakyat di Makassar melawan penjajah Belanda.

Benteng Fort Rotterdam atau dikenal juga dengan nama Benteng Ujung Pandang atau Benteng Jumpandang terletak di Jalan Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan. Lokasi benteng ini juga berdekatan dengan Pantai Losari, warga Makassar juga menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyua atau Benteng Penyu karena bentuknya yang mirip dengan hewan penyu jika dilihat dari atas.

Dinding yang terdapat di benteng ini sangat kokoh dengan bentuk yang menjulang tinggi dan ketebalan sekitar 2 meter, dengan pintu utamanya yang berukuran kecil. Benteng Ujung Pandang juga memiliki 5 Bastion atau sebuah bangunan yang sangat kokoh dan tempat yang lebih tinggi dengan dilengkapi meriam di atas masing-masing bangunan untuk mengamankan benteng.

Di Benteng Fort Rotterdam terdapat 2 tempat menarik yang kaya akan sejarah dan wajib anda kunjungi bila datang ke Benteng Fort Rotterdam ini. Tempat itu adalah Museum Lagaligo yang menyimpan ribuan koleksi benda bersejarah dan ruang tahanan sempit yang pernah digunakan untuk mengurung Pangeran Diponegoro ketika diasingkan kesini.

Jadi jangan sampai anda melewatkan 2 tempat yang akan menambah pengetahuan anda tentang sejarah Indonesia ini.

Benteng ini didirikan oleh Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau dikenal juga dengan nama Karaeng Tunipalangga Ulaweng, seorang Raja Gowa ke-X. Bentuk awal benteng ini pada mulanya adalah segiempat mengikuti gaya arsitektur benteng Portugis.

Bangunannya berbahan dasar campuran batu dan tanah liat yang dibakar sampai kering. Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1634 I Mangerangi Daeng Manrabbia dengan Gelar Sultan Alaudin yang merupakan Raja Gowa ke-XIV membuat dinding tembok yang berbahan dasar batu padas hitam yang didatangkan langsung dari daerah Maros.

Baca juga: Menjelajahi Pulau Komodo Dengan Perahu Tradisional

Kemudian penambahan dinding tembok kembali dilakukan di dekat pintu gerbang pada 23 Juni 1635. Pada masa penjajahan Belanda. Benteng ini pernah porak-poranda, Kesultanan Gowa yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin diserang habis-habisan oleh pasukan Belanda dengan tujuan untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah serta untuk memperluas jalur kekuasaan mereka yang akan memudahkan Belanda membuka jalur menuju Banda dan Maluku.

Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman ditugaskan untuk memimpin penyerangan pasukan perang Belanda di Kesultanan Gowa pada waktu itu, Benteng Ujung Pandang pun hancur setelah satu tahun penuh serangan pasukan Belanda.

Akibat dari kekalahan ini, Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani perjanjian Boyanga, yang terjadi pada 18 November 1667. Setelah berhasil menguasai Kesultanan Gowa, Jendral Speelman kemudian memerintahkan untuk membangun kembali benteng yang telah hancur tersebut.

Tentunya dengan model arsitektur Belanda yang kemudian diberi nama Fort Rotterdam, nama yang merupakan tempat kelahiran Jendral Speelman. Sejak saat itu pula Benteng Fort Rotterdam dialih fungsikan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi.

Terdapat banyak sekali cara untuk mendapatkan akses menuju Fort Rotterdam karena lokasinya yang berada di pusat kota Makassar,salah satu yang paling mudah adalah dengan menumpangi angkutan umum atau dikenal dengan nama pete-pete yang akan mengantarkan anda langsung ke arah Benteng Fort Rotterdam dengan tarif Rp,35.000.

Untuk masuk ke area Benteng sebenarnya tidak dikenai rincian biaya, petugas disana hanya akan meminta sumbangan seikhlasnya kepada para pengunjung lalu diminta untuk mengisi buku tamu.


EmoticonEmoticon