Kopi Sachet Luwak White Koffie Original: Favorit Saya Sejauh Ini

Kopi Sachet Luwak White Koffie Original: Favorit Saya Sejauh Ini

Saya baru sadar bahwa sudah hampir 1 tahun saya tidak memberikan ulasan barang atau produk di blog ini. Dan saya pun baru sadar bahwa ternyata dalam kategori tulisan ini, baru ada 1 artikel yang dipublikasikan sebelumnya. Jadi, terhitung baru 2 tulisan dengan diterbitkannya artikel yang sedang Anda baca ini. Dan kali ini, saya ingin me-review secara jujur mengenai kopi Luwak White Koffie Original.

Sepanjang yang saya ketahui, sejauh ini kopi Luwak White Koffie ini adalah kopi terfavorit saya.
review Luwak White Coffee Original dalam kemasan sachet
Saya bisa mengatakan demikian karena seingat saya, selama lebih dari 1 tahun terakhir, kopi inilah yang paling sering saya beli. Dan jujur, saya pun baru menyadari hal ini karena setelah baru saja membeli 3 bungkus kopi Luwak White Koffie sebelum menuliskan artikel ini.

Kopi lainnya yang juga dalam kemasan ekonomis seperti ini (sachet) juga masih sesekali saya beli tapi sudah sangat jarang sekali.

Pun dengan kopi hitam asli suatu daerah yang biasanya terkenal dengan ampasnya yang minta ampun, sudah sangat jarang sekali saya sentuh. Bahkan, ada yang sudah saya beli beberapa bulan yang lalu, menghabiskannya setengah pun belum bisa. Padahal, saya sebenarnya penikmat kopi hitam.

Kalau kopi Torabika Creamy Latter, baru beberapa hari yang lalu saya beli 1 renteng di mini market dan sudah habis.

Menurut saya, yang menarik dari Luwak White Koffie Original ini adalah karena beberapa kemudahan yang saya rasakan dan tentunya juga rasanya yang sangat cocok dengan selera saya.

Kemudahan tersebut sudah tersaji dalam bentuk kemasan sachet dimana baik Luwak White Koffie maupun brand kopi lainnya sangat mudah diseduh.

Dibanding kopi hitam yang biasanya mengharuskan air dimasak hingga benar-benar mendidih—pada kopi sachet kebanyakan—airnya hangat sedikit saja sudah bisa saya seduh dan minum. Apalagi sebagai pekerja kantoran yang hobi minum kopi pada pagi hari sebelum berangkat, hal ini sangat menghemat waktu ketimbang menunggu air mendidih sempurna (100℃).

Pada bagian Cara Penyajian yang tertera di kemasan Luwak White Koffie Original ini, memang disebutkan untuk menambahkan 180 cc air mendidih lalu kemudian diaduk dan bisa langsung disajikan (dinikmati). Namun jujur saja, saya biasanya tidak sering menggunakan air mendidih dan langsung saja menyajikannya.

Dan, rasanya masih sesuai dengan selera saya sendiri. Jadi, baik airnya panas atau hangat, menurut saya tidak masalah dari segi rasa. Karena masih cocok dengan apa yang saya inginkan. Setidaknya itu yang dirasakan lidah saya ketika meneguknya secara rutin hampir selama lebih dari setahun terakhir.

Dan juga, harganya menurut saya masih cukup terjangkau. Di beberapa minimarket yang pernah saya beli, seingat saya harganya sekitar Rp. 1.300,- sampai Rp. 1.500-an. Jika belanjanya di kios-kios yang cukup besar atau kios yang menjadi tempat belanja kios-kios kecil, saya mendapatkan harga Rp. 5.000,- untuk 4 bungkus kopi Luwak White Koffie.

Jadi, saya kira harganya masih cukup merakyat-lah.

Namun bagaimanapun, masih ada kekurangannya. Akan tetapi, kemungkinan besar ini adalah kelemahan produk kopi kemasan kebanyakan yang ada di pasaran. Yaitu sisa kopi yang masih menempel pada lidah dan seolah terasa kental sehingga saya terkadang merasa harus meludah.

Tapi, saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi karena kondisi rongga mulut saya sendiri. Dan, cara mengatasinya pun cukup mudah yaitu dengan meminum air puti atau berkumur-kumur selepas meminum kopi.

Oh ya, ada 1 hal penting lain yang juga baru saya sadari dan menurut saya unik sehingga perlu saya sampaikan disini terkait dengan komposisi kopi Luwak White Koffie Original ini. Ada 3 bahan yang diinformasikan sebagai komopisi kopinya yang entah ketiga bahan tersebut merupakan seluruh bahan yang digunakan atau hanya beberapa diantaranya saja.

Bahan-bahan yang menjadi komposisi kopi yang saya maksudkan adalah:

  1. Gula;
  2. Krimer nabati, dan;
  3. Kopi instan (15%).

Pada poin ke-3 diatas adalah hal yang menarik perhatian saya dimana saya berpikir bahwa apakah 1 sachet Luwak White Koffie ini hanya mengandung 15% bahan kopi saja atau ada definisi lain mengenai apa kopi instan itu sebenarnya? Atau sisa 85% bahan kopi ini apa saja? Apakah selain gula dan krimer nabati masih ada lagi bahan rahasia lainnya yang mungkin menjadi rahasia perusahaan itu sendiri?

Serius, pada titik ini saya benar-benar bingung dan pada saat yang sama saya membutuhkan jawabannya. Karena bagaimanapun, boleh donk kita sebagai konsumen mengetahui apa saja yang terkandung didalam sebuah produk sebelum benar-benar membelinya?

Tapi sejauh ini, saya rasa semua tampak baik-baik saja meskipun saya juga tidak paham mengenai bagaimana manfaatnya dari sisi kesehatan.
*PENTING:
Review ini berdasarkan sudut pandang pribadi dan tidak ada maksud untuk melebih-lebihkan atau menjelek-jelekkan produk yang dibahas diatas. Jika ada yang tidak sesuai, penulis tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi yang berhubungan dengan apa yang telah disampaikan.
Sekian ulasan ini. Semoga bisa bermanfaat? Anda punya pengalaman lain terkait kopi Luwak White Koffie Original ini untuk menambah informasi berharga lainnya? Beritahu saya di komentar.


EmoticonEmoticon